Dahsyatnya Ber-Qurban

Mukadimah

Dari tahun ke tahun, kuantitas orang yang melakukan Qurban terus mengalami peningkatan. Buktinya, semakin banyak hewan Qurban yang disembelih pada hari raya itu. Suatu realitas positif yang patut kita syukuri bahkan berbangga hati, ternyata kesadaran umat Islam untuk ber-Qurban terus mengalami lonjakan peningkatan. Kami menilai kasadaran itu belum menyentuh makna ber-Qurban secara maksimal, Ibadah Qurban masih bermakna ritual semata. Kami hadir untuk memaksimalkan makna Ibadah Qurban tersebut, bukan hanya sebatas dimensi ritual, tetapi dapat menghadirkan makna dimensi lainnya yang akan memberi nilai pahala tinggi dari ibadah Qurban yang dilakukannya.

Meningkatkan Kualitas Qurban Dengan Pahala Yang Berlipat-lipat

Ber-Qurban adalah sebuah upaya yang dilakukan seorang hamba untuk menjaga fitrahnya agar tetap suci, fitrah seorang hamba Alloh adalah bertauhid, maka fitrah tauhid itu wujudnya adalah ketaatan, orang yang menjaga dan memelihara fitrahnya adalah orang yang melaksanakan perintahnya, ber-Qurban adalah wujud ketaatan seorang hamba dalam memelihara fitrahnya.

Idul Adha sebenarnya merupakan saat yang paling tepat untuk menegaskan kembali komitmen keimanan dan keber-agama-an kita. Jalan ketaqwaan itu akan diperoleh dengan cara bersedia mengurbankan segala yang kita miliki, mengurbankan kecintaan kita kepada dunia dan segala isinya dan belajar secara berangsur-angsur menumbuhkan kecintaan kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya.

umat Islam yang merayakan Idul Qurban seharusnya berupaya menggali makna yang terkandung di dalamnya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ibadah Qurban ini hanya menjadi rutinitas yang miskin makna, tanpa makna dan hikmah.

Dalam ajaran Islam, setidaknya ibadah Qurban mengandung makna dalam lima dimensi. yaitu Dimensi Tauhid, Dimensi Spiritual, Dimensi Moral, Dimensi Sosial dan Dimensi Ekonomi, yakni sebagai berikut ini:

1. Dimensi Tauhid

Ibadah Qurban merupakan sarana pembuktian keimanan seorang hamba kepada Alloh. Keimanan meliputi keikhlasan, yang berarti ibadah Qurban yang dilakukan harus murni dilakukan semata-mata karena Alloh dan dalam rangka menjalan-kan perintah-Nya.

Melalui ibadah Qurban ini Nabi Ibrahim memperlihatkan keimanan, ketundukan dan ketaatannya hanya kepada Alloh, pengorbanan yang dilakukannya diperuntukan bagi Alloh semata tidak untuk selain-Nya. Seseorang tidak akan pernah sampai kepada jalan ketaqwaan dan tidak akan memperoleh keimanan yang sejati, bila kecintaan kita kepada dunia mengalahkan kecintaan kita kepada Alloh dan Rasul-Nya. Dalam sebuah riwayat oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik dikatakan: "Tidak beriman kamu sebelum Alloh dan Rasul-Nya lebih kamu cintai daripada siapapun selain mereka".

2. Dimensi Spiritual

Dengan adanya ritual ibadah Qurban, diharapkan dapat menumbuhkan dan mengasah keikhlasan, karena keikhlasan adalah syarat diterima tidaknya ibadah seseorang.

Ibadah Qurban yang dilakukan karena mengharap ridho Alloh itu bukannya berkurang hartanya, bahkan hartanya itu menjadi bertambah-tambah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya berikut ini: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". [QS. Ibrahim (14):7]

Bagi yang ingin mendapatkan keberkahan rizqi dari Alloh maka dirinya akan melaksanakan ibadah Qurban, bagi yang telah mendapatkan keberkahan dari ibadah Qurban ini, sekali melakukannya maka akan selanjutnya ingin terus melakukannya kembali. Ibadah tetap ibadah jangan keluar dari tujuan ibadah itu sendiri, Ber-Qurban adalah wujud ibadah seorang hamba kepada penciptanya, Ibadah Qurban sama dengan ibadah-ibadah yang lain, dilakukakan hanya untuk mendapatkan ridho Alloh. Maka tidak tepatlah jika melakukan Ibadah Qurban dengan maksud:

- Untuk Dilihat Orang

Seseorang ber-Qurban karena ingin disebut kaya atau takut disebut miskin, jika demikian maksudnya tentu tidak akan mendapatkan pahala dari Alloh, dirinya hanya mendapatkan imbalan sanjungan dari orang saja. ... Seseorang yang bersedekah lalu ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannnya ... (H.R. Muslim)

- Meminta Bagian

Nilai pahala ber-Qurbannya bisa berkurang bahkan bisa hilang karena dengan meminta bagian itu akan membuat orang lain disusahkan karena permintaannya, bahkan yang meminta bagian akan kecewa jadinya karena yang diterima tidak sesuai dengan yang diminta, baik bagian maupun waktunya. Karena hal yang sepele ini, maka niat suci dan sakral ibadah qurban yang dilakukakannya itu menjadi terkotori nilainya. Agar jangan sampai terjadi hal itu, karenanya Alloh peringatkan dalam firman-Nya berikut ini: ...janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya...[QS. An-nisa (4):19]

- Memberi Kecuali Yang Terbaik

Ibadah Qurban yang dilakukan itu merupakan wujud cinta kepada Alloh, tanda seseorang yang mencintai akan memberikan kepada yang dicintainya dengan pemberian yang baik dan persembahan yang baik. Memberi sesuatu yang tidak terbaik tanda dirinya tidak mencintai atau tidak menyayangi bahkan tidak menghormati pihak yang diberinya. Memberi sesuatu dengan maksud untuk mengambilnya lagi sebagian dari apa yang diberikannya itu, tanda dirinya tidak begitu ikhlas dan tidak merelakan dengan sepenuh hati apa yang diberikan dan yang dipersembahkannya.

Alloh ingatkan dalam firman-Nya berikut ini, agar ibadahnya tidak sia-sia: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Alloh mengetahuinya. [QS. Al-Imraan (3):92] Agar sampai pada keikhlasan ber-Qurban maka muqorrib menyerahkan sepenuhnya kepada pengelola untuk mengaturnya agar sampai kepada mustahiqnya, pengelola melaksanakan tugasnya dengan baik dan ikhlas tanpa tekanan dari pihak muqorrib atau pihak lainnya.

3. Dimensi Moral

Ibadah Qurban juga mengandung pesan-pesan moral yang ditunjukan dengan simbol-simbol yang ada dalam ritual ibadah Qurban. Sejarah Qurban Nabi Ibrahim merupakan sejarah yang penuh dengan nilai pengorbanan. Nabi Ibrahim yang diperintahkan Alloh untuk mengorbankan anaknya, darah dagingnya sendiri. Pesan-pesan yang hendak disampaikannya adalah dalam rangka beribadah kepada Alloh, jangankan kehilangan harta, kehilangan anak pun akan diterima dengan ikhlas jika Alloh memintanya.

4. Dimensi Sosial

Di samping nilai-nilai spiritual, dalam ibadah qurban juga terdapat nilai-nilai sosial, tujuan ibadah Qurban bukan hanya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi, tapi juga bertujuan bagi kemaslahatan duniawi, karena setiap pensyari'atan dalam Islam, terkandung tujuan syari'at yaitu tercapainya kemaslahatan dunia dan akhirat. Islam mengajarkan untuk berjiwa sosial dan memotivasi untuk kaya, Ibadah qurban mengajarkan kita untuk berbagi dengan sesama yang hidup jauh dari keberuntungan, memotivasi kita untuk bekerja keras dan menabung. Dengan bekerja keras dan mendapatkan materi yang cukup, tentu kita dapat mejalankan ibadah Qurban dan berbagi dengan sesama yang kurang beruntung. Dengan syari'at Qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya.

Melalui ibadah Qurban, seorang hamba ditempa untuk memiliki jiwa kepedulian terhadap orang lain, karena dalam suatu masyarakat ada orang yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan, maka dianjurkan sekali bagi orang yang mampu untuk ber-Qurban dan membagi-bagikan daging dari hewan Qurban tersebut kepada fakir miskin. Daging hewan Qurban dapat didistribusikan kepada mereka yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan begitu kita mengajak mereka semua untuk ikut merasakan kebahagiaan. Daging/hewan Qurban akan didistribusian ke daerah-daerah pelosok yang jarang mendapatkan daging Qurban bahkan belum pernah mendapatkan daging Qurban. Maka tidak ada pilihan lagi bagi kita untuk peduli terhadap kondisi seperti itu.

5. Dimensi Ekonomi

Hewan Qurban yang akan didistribusikan dan disembelih di daerah-daerah yang kurang mampu itu sesungguhnya didapatkan dengan membeli dari peternak tradisitional yang ada di daerah tersebut, hal ini dilakukan dengan maksud, bahwa orang yang kurang mampu itu bukan hanya dapat merasakan menikmati daging Qurban yang diterimanya, tetapi juga bagaimana masyarakat pedesaan itu dapat merubah nasibnya menjadi lebih baik. Dengan cara seperti ini diharapkan juga akan memberi gairah pada warga yang lainnya untuk beternak domba/kambing sehingga tibanya iedul adha mereka dapat menjualnya dengan harga yang layak, dalam jangka waktu tertentu secara bertahap diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, ber-Qurban bukan hanya sebatas ritual, tetapi telah membantu Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Pedesaan, walaupun sedikit tetapi pahalanya berkesinambungan. Itulah dahsyatnya ber-Qurban....

Semoga keberkahan rizqi selalu terlimpah kepada kita sekalian dan semoga Ibadah Qurban tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya menjadi ibadah yang lebih baik dan menjadi lebih baik lagi, menjadi ibadah yang senantiasa dalam keikhlasan yang dengan itu senantiasa menjadi hamba Alloh yang taqwa. Amiiien.